Aktivis Kampus

Karakter mahasiswa itu berbeda-beda tiap orang. Ada yang aktif, ada pula yang pasif. Bagi anda yang sedang berkuliah seperti saya tentu akan menjumpai di kampusnya ada berbagai macam kegiatan. Kalau di kampus saya di STKIP PGRI Ngawi berbagai macam kegiatan itu disebut UKM atau Unit Kegiatan Mahasiswa. Tiap mahasiswa berhak untuk mengikuti beberapa kegiatan di situ. Nah, kalau mahasiswa yang aktif tentu mereka mengikuti kegiatan yang diadakan di kampusnya. Kadang kita menyebut mereka sebagai aktivis kampus. Kalau yang pasif, mereka tentu tidak mengikuti kegiatan di kampusnya. Dengan catatan aktivis kampus di sini adalah mahasiswa yang berkegiatan positif. Bukan mahasiswa yang suka demo sampai-sampai merusak fasilitas umum itu.

Kita sebagai mahasiswa setelah lulus dari kuliah tentu kita semua menginginkan menjadi orang yang sukses. Baik itu dalam hal karier maupun dalam hal hidup bermasyarakat. Untuk hal karier, kita menginginkan hidup yang mapan. Kita bisa memperoleh penghasilan yang cukup. Syukur-syukur kita memperoleh pendapatan yang lebih dari cukup. Dalam hal hidup bermasyarakat, kita setelah lulus tentu akan terjun langsung ke masyarakat. Kita menjadi warga masyarakat yang berpendidikan tentunya. Kita kan memang produk dari universitas (kalau lulusan universitas) atau sekolah tinggi (kalau lulusan sekolah tinggi). Kita mempunyai kelebihan dibandingkan dengan orang yang hanya lulusan SMP dan SMA sederajat. Cara berpikir kita yang lulusan perguruan tinggi tentu juga berbeda dengan yang lulusan SMP dan SMA.

Mahasiswa yang pernah atau aktif mengikuti kegiatan di kampusnya tentu berbeda dengan mahasiswa yang pasif atau tidak pernah mengikuti kegiatan di kampusnya. Mahasiswa yang pernah berorganisasi kebanyakan mereka terlatih sehingga cara bicaranya dan cara berpikirnya akan lebih maju daripada mahasiswa yang pasif. Mereka yang aktif akan lebih siap terjun ke masyarakat. Ibaratnya dalam pertempuran, mereka mempunyai senjata yang lengkap. Mereka tak akan gentar menghadapi tantangan maupun musuhnya.

Dalam organisasi kita bisa belajar bagaimana caranya hidup bermasyarakat. Kalau di kampus ada yang namanya BEM atau Badan Eksekutif Mahasiswa. Ada HMJ atau Himpunan Mahasiswa Jurusan. Ada KIC atau Kajian Islamic Center. Itu kalau di kampus saya dan masih ada lagi organisasi-organisasi lainnya. Dalam organisasi, kita biasanya berhubungan dengan teman-teman seorganisasi kita. Kita dapat bersosialisasi dengan rekan-rekan kita satu organisasi. Dengan itu ketika kita sebagai mahasiswa yang pernah berorganisasi terjun ke masyarakat, kita sudah mempunyai bekal yaitu dari organisasi itu sendiri.

Beberapa waktu yang lalu, selama tiga hari (11 s/d 13 Oktober 2012) di kampus saya ada kegiatan PKMB atau Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (dulu dikenal dengan istilah OSPEK). Yang menjadi panitia yaitu BEM. Kebetulan saya termasuk panitia meskipun sebagai anggota, hehehe. Dalam kegiatan itu diperlukan kerja sama satu sama lain. Bisa dibilang butuh kerja sama tim. Semua panitia bekerja sama untuk menyelenggarakan kegiatan itu. Sekretaris mempunyai tugas mencatat jalannya kegiatan. Seksi konsumsi mempunyai tugas mengatur jatah makan peserta dan panitia. Seksi perlengkapan bertugas menyiapkan peralatan-peralatan yang dibutuhkan untuk kegiatan. Kebetulan saya kemarin sebagai bagian perlengkapan, hehehe. Masih banyak lagi pembagian tugas dari panitia. Bagaimana bila antar panitia tidak bekerja sama? Kemungkinan besar kegiatan tidak berjalan lancar. Kegiatan akan pincang. Lebih parahnya kegiatan akan gagal. Alhamdulillah, kegiatan PKMB di kampus saya kemarin berjalan lancar.

Saya pribadi yang masih tergolong minim pengalaman berorganisasi (meski ikut beberapa organisasi) ketika berbicara di depan umum masih gugup. Memang kalau kita jarang berbicara di depan umum, sewaktu bicara kita akan gugup. Badan kita akan gemetar sampai-sampai kertas yang kita baca juga ikut bergetar. Kita bisa kehilangan kata-kata di atas panggung, hehehe. Itulah bila seseorang belum terlatih berbicara di depan umum. Untuk menjadi pembicara yang hebat memang perlu proses berlatih. Kalau tidak, jangan harap bisa menjadi pembicara yang hebat di depan umum. Saya yang masih gugup sewaktu berbicara di depan umum, dengan mengikuti organisasi saya bisa belajar. Lama-kelamaan saya bisa menjadi lancar sewaktu berbicara di depan umum. Memang tak sembarangan orang bisa berbicara di depan umum. Saya suatu saat nanti akan menjadi orang yang tak sembarang orang tersebut, aamiin!

Mahasiswa sebagai aktivis kampus akan banyak mendapatkan pengalaman dibandingkan dengan pasivis kampus. Pribadi mereka yang sebagai aktivis kampus bisa lebih bijak menghadapi tantangan. Tentu sebagai aktivis kampus atau pasivis kampus adalah pilihan dari masing-masing mahasiswa. Artinya tidak ada paksaan untuk menjadi aktivis kampus. Keuntungan menjadi aktivis kampus akan kembali kepada diri pribadi kita masing-masing. Tinggal bagaimana kita memilih. Apa pilihan anda? ***

Udin Widarso

3 gagasan untuk “Aktivis Kampus”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s