Berawal dari Nasi

Selama dua hari kemarin, saya merasakan betapa tidak mudahnya perjuangan seorang petani. Pasalnya saya kemarin ada kegiatan membantu memanen padi milik ayahku. Saya kemarin memanen padi bersama dengan ayah dan ibuku. Memang sawah ayahku tidak begitu luas, hanya dua kedhok dalam ukuran Jawa sehingga bisa memanennya sendiri. Bukan itu yang akan saya sampaikan tetapi menitik beratkan pada perjuangan petani dalam mengelola sawahnya.

Para petani setiap mengelola sawahnya pasti memerlukan kesabaran. Mulai dari proses pembibitan, proses penanaman, proses perawatan, proses panen, dan sebagainya. Semua itu perlu proses dan proses yang membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Dan juga perlu waktu untuk semua itu.

sumber gambar : globalseven.wordpress.com

Saya kemarin, diberi bagian untuk memotong padi-padinya. Ibuku yang mengumpulkan padi-padinya yang kemudian diserahkan kepada ayahku untuk digepyok. Memang kami tidak menggunakan peralatan yang modern, tetapi masih menggunakan peralatan tradisional. Proses panen dengan cara memukul-mukulkan padi ke tempat pemukulan yang terbuat dari bambu sedemikian rupa sehingga biji-biji padi bisa jatuh terurai.

Saya merasakan betapa tidak mudahnya perjuangan seorang petani. Bukan berarti selain petani perjuangannya sangat mudah. Semua pekerjaan memang membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Tetapi kali ini tulisan saya mengenai perjuangan petani.

Ketika memotong padi, kulit saya terasa gatal-gatal meskipun memakai kaos lengan panjang. Kulit padi terdapat semacam bulu-bulu yang membuat kulit terasa gatal. Belum lagi jika di tanaman padi terdapat ulat yang menempel di batang maupun di daunnya. Itu membuat lebih gatal lagi.

Selain itu menjelang siang hari, cuaca akan sangat panas. Meski masih jam sembilan-nan matahari bersinar cukup panas. Belum lagi cuaca sekitar jam 11 atau jam 12, pastinya akan lebih panas lagi. Terlebih saat ini adalah bumi kita mengalami pemanasan global atau disebut juga global warming. Tentu diperlukan perjuangan yang lebih.

Jika pekerjaan sudah selesai, badan terasa begitu capeknya. Tangan saya pun menjadi kaku karena memegang sabit cukup lama untuk memotong padinya.

Itu hanya proses panennya saja. Belum lagi proses pembibitan, penanaman, hingga perawatan. Tetap saja butuh kesabaran dan pengorbanan dari seorang petani.

Melihat perjuangan para petani tersebut, kita selayaknya memberikan apresiasi kepada para petani di Indonesia. Bukan seperti memberikan award kepada artis atau bintang film, tetapi dalam arti kita jangan menyia-nyiakan nasi yang berasal dari petani. Dengan kata lain kita jangan memubazirkan nasi yang ada di hadapan kita.

Kadang kita menyia-nyiakan makanan yang kita miliki, dalam hal ini nasi yang kita makan. Setiap sehabis sarapan kadang masih ada sesendok nasi yang ada di piring kita. Hal itu memang kelihatan tidak berpengaruh kepada kita. Tetapi apabila kita memandang dalam skala yang lebih besar atau skala makro tentu akan menimbulkan banyak kerugian pada negara kita. Kita misalkan setiap penduduk Indonesia dalam setiap makan menyisakan sesendok nasi dalam setiap piringnya. Seperti kita ketahui penduduk Indonesia berjumlah sekitar dua ratus juta lebih. Berapa kira-kira nasi yang mubazir atau terbuang sia-sia? Tentunya tidaklah kecil jumlahnya.

Belum lagi apabila stok padi di negara  kita berkurang atau tinggal sedikit, mungkin pemerintah akan mengimpor beras dari negara tetangga kita. Tentunya menjadikan harga beras petani menjadi anjlok. Itu semua mungkin keteledoran kita dalam mengelola nasi yang ada di “piring” kita.

Negara kita yang dijuluki sebagai negara agraris masak harus mengimpor beras dari negara lain. Apa kata dunia?

Jika terpaksa negara kita harus mengimpor beras dari negara lain, menurut saya sah-sah saja tetapi kita harus bijak. Dimulai dari hal yang kecil, menuju perkembangan yang besar.

Kita sebaiknya bersikap bijak dalam mengelola nasi yang kita makan. Apabila kita makan, nasi yang kita makan sebaiknya kita habiskan. Jangan kita menyia-nyiakan nasi kita yang merupakan anugerah dari Tuhan. Tuhan tidak suka jika kita berbuat mubazir terhadap sesuatu yang kita miliki, termasuk nasi kita.

Jika seandainya makanan kita masih ada yang tersisa, akan lebih baik kita berikan kepada hewan-hewan ternak kita daripada harus dibuang sia-sia. Misalnya saja kita berikan kepada ayam-ayam kita. Ayam pastinya tidak akan menolak nasi pemberian kita meskipun itu nasi sisa makan kita.

Harapan saya, semoga negara Indonesia ini menjadi negara yang maju dan sejahtera. Amiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s