Pembantu Rumah Tangga Juga Manusia

Kemarin, tanggal 15 Februari merupakan peringatan hari Pekerja Rumah Tangga di Indonesia. Para majikan menjadi terbantu dengan kehadiran pekerja rumah tangga yang membantu aktivitas rumah majikan setiap harinya. Sehingga seorang pembantu bisa memperoleh upah dari pekerjaannya. Selain itu, tidak jarang pula para pembantu rumah tangga di negeri ini kadang kala mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari para majikannya. Baik itu penganiayaan atau penyiksaan.

Saya sengaja mengambil sumber dari GATRA.COM kemarin (15/02), yang berjudul “Hari PRT 2012 dalam Suasana Berduka”. Peringatan hari Pekerja Rumah Tangga yang jatuh pada hari ini (kemarin), dilakukan dalam suasana berduka, setelah kematian Sunarsih, pembantu rumah tangga (PRT) berusia 14 tahun, yang tewas setelah disiksa dan disekap majikannya.

Sunarsih adalah PRT asal Pasuruan Jawa Timur yang meninggal akibat disiksa dan dianiaya majikannya. Selama bekerja, ia sering mengalami tindakan tak manusiawi, yakni jam kerja yang panjang, tidak diberi cukup makan, dan upah yang tidak dibayar.

sumbar gambar : setyo81.blogspot.com

Puncaknya terjadi pada, 13 Februari 2001, majikannya menuduh ia memakan buah rambutan yang disimpan di lemari es. Karena Sunarsih menolak tuduhan tersebut, majikan menganiayanya, bahkan memaksanya untuk memakan kotoran.

Setelah dianiaya dan disiksa, majikan menyekap dan mengurungnya tanpa diberi makan dan minum. Sehari kemudian, Sunarsih meninggal dunia. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 2001 silam.

Dari sepenggal kisah diatas, membuat kita tercengang akan perlakuan dari seorang majikan terhadap pembantunya. Perlakuan majikan tersebut bahkan bertentangan dengan nilai peri kemanusiaan. Betapa tidak, seorang pembantu dituduh mencuri di rumahnya. Bahkan dianiayanya pula. Padahal, belum tentu pembantu tersebut yang melakukannya.

Hanya kesalahan kecil dari seorang pembantu, pembantu tersebut hingga dianiaya dan disiksa oleh majikannya. Dan juga pembantu kerap dieksploitasi oleh sang majikan. Sang pembantu kadang kala diberi jam kerja yang panjang, tidak diberi cukup makan, dan upah yang tidak dibayar. Padahal, seorang pembantu bekerja dengan tujuan mencari penghasilan. Bagaimana apabila seorang pembantu mendapatkan pekerjaan yang berat dari majikannya, sementara itu ia tidak mendapatkan upah dari hasil jerih payahnya?

Sudah selayaknya peran pemerintah sangat diperlukan menghadapi kondisi tenaga kerja di Indonesia, khususnya pekerja rumah tangga seperti kisah tersebut . Pemerintah harusnya berperan dalam mengatasi perlakuan majikan terhadap pembantunya yang tidak berperikemanusiaan. Pembantu rumah tangga harus dilindungi secara hukum agar terhindar dari hal-hal yang kurang menyenangkan semisal terjadi kekerasan dan penganiayaan.

Jika terbukti, sang majikan melakukan tindakan penganiayaan terhadap pembantunya yang tidak bersalah, maka hukum harus ditegakkan. Jangan sampai pemerintah bersikap acuh tak acuh alias tidak mempedulikan rakyat kecil, dalam hal ini pembantu rumah tangga.

Bagi para majikan, selayaknya memperlakukan pembatunya secara manusiawi. Pembantu rumah tangga itu juga seorang manusia. Para pembantu berhak memperoleh perlakuan yang layak dari majikannya. Majikan jangan menyiksa pembantunya. Apabila seorang pembantu mempunyai kesalahan, akan lebih baik sang majikan memaafkannya. Mereka para pembantu bekerja sesuai dengan kemampuannya, maka dari itu para majikan harus bisa pintar-pintar mengatur pekerjaannya. Baik itu jam kerja, uang makan kalau mampu, dan gaji yang harus dibayarkan sesuai dengan pekerjaannya.

Sedangkan bagi seorang pembantu rumah tangga itu sendiri, selayaknya mengerjakan tugas pekerjaan dari seorang majikannya dengan sungguh-sungguh sehingga memberikan hasil yang baik. Apabila seorang pembantu dalam pekerjaannya memberikan hasil yang baik, maka sang majikan pun akan senang untuk mempekerjakan seorang pembantu tersebut. Sang pembantu jangan pula berbuat kejahatan dalam rumah sang majikannya. Misalnya saja, mencuri barang milik majikannya. Hal itu apabila diketahui oleh majikannya, bukan tidak mungkin sang majikan akan marah kepada pembantunya.

Semoga dengan diperingatinya hari Pekerja Rumah Tangga tanggal 15 Februari kemarin, tidak ada lagi kekerasan terhadap pekerja rumah tangga di Indonesia. Dan para pekerja rumah tangga dapat hidup makmur dan sejahtera.

Sekian.

Salam, Udin Widarso.

4 pemikiran pada “Pembantu Rumah Tangga Juga Manusia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s