Menyimak Perjalanan Bubi Chen, Sang Maestro Jazz

Kita telah kehilangan salah satu musisi berbakat Indonesia yang juga sang maestro jazz Indonesia yaitu Bubi Chen. Ia meninggal dunia pada hari Kamis, 16 Februari lalu. Memang saya tidak banyak mengetahui musisi tersebut. Saya baru mengetahuinya ketika saya membaca Koran Surya edisi Jumat, 17 Februari lalu, dan ketika menonton siaran TVRI kemarin. Kebetulan saya juga suka dengan musik jazz.

Memang generasi muda saat ini tidak banyak mengetahui kiprah beliau di belantika musik tanah air. Padahal beliau ini merupakan musisi handal yang sudah banyak menghasilkan karya musik jazz.

Untuk mengetahui kiprah beliau di dunia musik, saya sengaja mengambil sumber dari Wikipedia Indonesia, yang mungkin dari perjalanan sang Bubi Chen bisa kita jadikan inspirasi khususnya bagi para musisi Indonesia.

Bubi Chen. Sumber gambar : music.okezone.com

Bubi Chen (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 9 Februari 1938 – meninggal di Semarang, Jawa Tengah, 16 Februari 2012) adalah seorang pemusik jazz Indonesia. Saat berusia lima tahun oleh ayahnya Tan Khing Hoo, Bubi diserahkan kepada Di Lucia, seorang pianis berkebangsaan Italia, untuk belajar piano. Saat itu Bubi belum bisa membaca apalagi memahami not balok. Meskipun begitu, Bubi Chen bisa mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh Di Lucia karena Bubi Chen sudah terbiasa melihat kakak-kakaknya, Jopie Chen dan Teddy Chen, saat berlatih piano. Bubi Chen belajar pada Di Lucia hingga tahun kemerdekaan Indonesia.

Perjalanan karier

Setelah itu, Bubi Chen mengikuti kursus piano klasik dengan pianis berkebangsaan Swiss bernama Yosef Bodmer. Suatu ketika Bubi Chen tertangkap basah oleh Yosef Bodmer ketika sedang memainkan sebuah aransemen jazz. Bukannya marah, Yosef Bodmer justru berucap, “Saya tahu jazz adalah duniamu yang sebenarnya. Oleh karena itu, perdalamlah musik itu”. Di umur 12 tahun, Bubi Chen sudah mampu mengaransemen karya-karya Beethoven, Chopin, dan Mozart ke dalam irama jazz. Bubi Chen menilai musik jazz memiliki kebebasan dalam menuangkan kreativitas dibanding musik klasik dengan kaidah-kaidahnya sendiri.

Beberapa waktu kemudian Bubi mulai mempelajari jazz secara otodidak. Ia mengikuti kursus tertulis pada Wesco School of Music, New York antara tahun 1955-1957. Salah seorang gurunya adalah Teddy Wilson, murid dari tokoh swing legendaris Benny Goodman.

Di kota Surabaya, Bubi Chen membentuk sebuah grup bernama The Circle bersama Maryono (saksofon), F.X. Boy (bongo), Zainal (bass), Tri Wijayanto (gitar) dan Koes Syamsudin (drum). Bersama Jack Lesmana, Maryono, Kiboud Maulana, Benny Mustapha dan kakaknya Jopie Chen, ia juga tergabung dalam Indonesia All Stars. Kelompok Indonesia All Stars ini malah sempat berangkat dan tampil di Berlin Jazz Festival pada tahun 1967. Setelah itu mereka rekaman dan menelorkan album yang kini menjadi barang langka, “Djanger Bali”. Album ini digarap bersama seorang klarinetis ternama asal Amerika Serikat, Tony Scott. Bubi Chen pernah membuat rekaman jazz bersama Nick Mamahit dan diproduseri Suyoso Karsono atau yang akrab dipanggil mas Yos.

Pada tahun 1959, bersama Jack Lesmana, ia membuat rekaman di Lokananta. Rekamannya yang bertitel Bubi Chen with Strings pernah disiarkan oleh Voice of America dan dikupas oleh Willis Conover pada tahun1960, seorang kritikus jazz ternama dari AS. Ia menyebut Bubi sebagai The Best Pianist of Asia (tahun 1960 Bubi berusia 22 tahun). Bubi juga pernah membentuk “Chen Trio” bersama saudaranya Jopie dan Teddy Chen di tahun 1950-an. Di tahun yang sama ia juga bergabung dengan “Jack Lesmana Quartet” yang kemudian berganti menjadi Jack Lesmana Quintet. Menetap di Surabaya, Bubi Chen menularkan ilmu yang dimilikinya.

Pada pertengahan tahun 1976, Bubi merilis rekamannya yang berjudul Kau dan Aku, bersama Jack Lesmana, Benny Likumahua, Hasan, dan Embong Rahardjo. Selain itu, ada dua buah rekaman lain yang eksotik, berupa eksperimen jazz dengan beat reog. Sedangkan pada tahun 1984, bersama pemain-pemain jazz seperti John Heard, Albert Heath, dan Paul Langosh, ia membuat rekaman di Amerika dan diedarkan di Indonesia. Rekaman itu diberi judul Bubi di Amerika.

Pada tahun 2004, Bubi Chen menerima penghargaan Satya Lencana pengabdian seni dari mantan presiden Megawati. Setahun kemudian, pada tahun 2005, Peter F. Gontha pada gelaran Java Jazz Festival yang pertama memberikan penghargaan sebagai musisi Jazz Living Legend kepada Bubi Chen. Bubi Chen juga mendapatkan Life Achievement Award dari gubernur Jawa Timur karena dinilai telah memperkenalkan Surabaya ke dunia internasional melalui musik jazz. Penghargaan tersebut diberikan pada gelaran Wismilak The Legend of Jazz yang diadakan pada awal tahun 2010.

Tentunya Bubi Chen selama hidupnya banyak menghasilkan karya. Berikut album studio yang telah dihasilkannya :

  • Bubi Chen & Kwartet – (Lokananta, 1959)
  • Bubi Chen and His Fabulous 5 – (Irama, 1962)
  • Bubi Chen – Buaian Asmara (1967)
  • Lagu Untukmu – (Irama, 1969)
  • “Bila Ku Ingat (Bubi Chen With Strings)” – (Irama, 1969)
  • Margie Segers & Bubi Chen “Terpikat” (Hidayat, 1975)
  • Mengapa Kau Menangis – (Irama Tara)
  • Just Jazz – (Virgo Ramayana)
  • Mr. Jazz
  • Instrumental Piano – Pop Indonesia (Nirwana)
  • Bubi Chen Plays Soft and Easy (Atlantic Records, 1977)
  • Musik Santai (Atlantic Records)
  • Jazz Meeting Vol.1 – Recoding Live In Bandung (Hidayat)
  • Rien Djamain & Jack Lesmana Combo – “Telah Berlalu”
  • Selembut Kain Sutera – (Hidayat)
  • Kau Dan Aku – (Hidayat)
  • Bubi Di Amerika – (Hidayat 1984)
  • Kedamaian – (Hidayat, 1989)
  • Bubby Chen and his friends – (Bulletin, 1990)
  • Virtuoso – (Legend Records, 1995)
  • Jazz The Two Of Us – (Legend Records, 1996)
  • Judge Bao – (Legend Records, 1996)
  • Romantiques – The Way We Were (Legend Records, 1996)
  • Mei Hua San Lung – (Legend Records, 1997)
  • Nice ‘n Easy – My Way (Legend Records, 1997)
  • Nice ‘n Easy – Love Me Tender (Legend Records, 1997)
  • Nice ‘n Easy – What a Wonderful World (Legend Records, 1997)
  • Romantiques – Monalisa (Legend Records, 1997)
  • Romantiques – All I Am (Legend Records, 1997)
  • A.S.I.C. Australia Singapore Indonesia Connection – (Legend Records, 1998)
  • The Many Collours of Buby Chen
  • Bubi Chen Plays Rock
  • Best Of Me – (Platinum, 2007)
  • Wonderful World – (Sangaji Music)
  • Buaian Asmara – (DeMajors, 2007)

Kemudian, pelajaran apa yang dapat kita ambil dari perjalanan sang maestro jazz, Bubi Chen tersebut? Banyak sekali hikmah atau pelajaran berharga yang dapat kita petik. Pertama, kita bisa meneladani semangat beliau untuk menghasilkan karya-karyanya. Kedua, kita bisa meneladani untuk terus belajar dan belajar. Ketiga, kita bisa meneladani sikap yang konsisten dari beliau. Beliau tidak pantang putus asa, tidak gampang menyerah. Beliau gigih untuk berkarya, menghasilkan musik bagi Indonesia. Sehingga nama Indonesia bisa terangkat ke mata dunia.

Itu semua tidak terbatas bagi musisi jazz saja, tetapi juga bagi musisi-musisi yang lain juga. Apakah ia seorang musisi pop, rock, dangdut, ataupun yang lainnya. Semuanya tentu membutuhkan kesabaran untuk menghasilkan karya-karya seninya.

Sebenarnya masih banyak pelajaran berharga dari beliau yang dapat kita ambil hikmahnya. Tidak hanya dalam bidang musik saja, tetapi juga dapat diaplikasikan ke dalam bidang-bidang selain musik.

Semoga musisi-musisi Indonesia banyak menghasilkan karya-karya yang terbaik. Sehingga bisa mengangkat nama Indonesia di mata dunia, seperti yang dilakukan Bubi Chen.

Selamat jalan Bubi Chen. Meski saya baru mengenalmu.

3 pemikiran pada “Menyimak Perjalanan Bubi Chen, Sang Maestro Jazz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s