Benteng Pendem Ngawi, Kini dan Nanti

Kegagahan Ngawi tempo dulu digambarkan dengan berdirinya benteng Van Den Bosch, yang masyarakat kini lebih sering menyebutnya dengan benteng pendem. Bangunan benteng pendem memang pada awalnya kokoh berdiri. Dan apakah sekarang benteng pendem masih kokoh? Dan apakah juga lingkungan di sana masih terjaga, baik kebersihan maupun kenyamanannya?

Kemarin, pada hari Minggu saya dan teman-teman sesama komunitas Blogger Ngawi sedang mengadakan kopdar (kopi darat). Kopdar itu diadakan di benteng pendem. Memang tulisan saya ini terinspirasi dari kunjungan ke benteng pendem kemarin. Sambil jalan-jalan, saya mencoba mengamati keadaan bangunan benteng. Dan mencoba menuangkan pandangan saya ke dalam tulisan. Saya juga mencari  tahu dari buku tentang benteng Van Den Bosch, alias benteng pendem itu.

Benteng pendem Van Den Bosch Ngawi. Sumber gambar : satriotomo-gombal.blogspot.com

Benteng Ven Den Bosch terletak di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi, sebelah utara kora Ngawi. Tepatnya di sudut pertemuan dua sungai besar Bengawan Solo dan Sungai Madiun. Benteng ini dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1839 – 1845 M dengan nama Fort Van Den Bosch.

Bangunan ini merupakan sebuah benteng militer yang pada saat itu merupakan garis pertahanan Belanda di sepanjang jalur pos utama yang menghubungkan Jawa Barat dan Jawa Timur.

Itulah sedikit informasi yang saya dapat tentang benteng Van Den Bosch yang terdapat di Ngawi. Kini oleh Pemda Ngawi benteng pendem itu dijadikan sebagai salah satu obyek wisata Ngawi. Lokasi obyek wisata ini bisa dijangkau dengan semua sarana transportasi karena letaknya yang dekat dengan pusat kota.

Kini benteng pendem sudah mengalami beberapa perubahan. Misalnya pada pintu bangunan. Pintu bangunan berjumlah banyak. Pintu itu ukurannya pun juga terbilang lebar. Nah, untuk perubahannya yaitu pada beberapa pintu itu ditutup oleh tembok. Sehingga bentuk bangunan yang dulu dengan sekarang sedikit berbeda.

Ketika saya melihat-lihat bangunan benteng, memang masih berdiri kokoh. Tetapi sudah banyak juga bagian bangunan yang rapuh. Hal itu bisa kita maklumi karena bangunan itu kini sudah berusia lebih dari satu setengah abad lebih. Bahkan ada beberapa bagian yang sudah ambrol. Terutama pada bagian lantai atas bangunan.

Lingkungan di sekitar benteng masih asri terjaga. Bisa anda lihat di sekitar benteng ditumbuhi oleh pohon yang rindang. Pohon itu ada yang tumbuh dari tembok benteng. Akarnya menjalar dari bawah tembok menuju ke atas hingga menjulang. Dengan tumbuhnya pohon di tembok bangunan menjadikan kesan unik tersendiri. Apabila kita berteduh di bawah pohon maka kita akan merasakan kesejukan dari keasrian pohon tersebut.

Dari kelebihan itu ada juga kekurangannya. Ketika saya berkeliling di sekitar benteng, saya sering menjumpai lingkungan yang kotor. Hal itu diakibatkan oleh sampah yang berserakan di sebagian lingkungan benteng pendem. Sampah yang menggangu biasanya sampah dari bahan plastik. Karena sampah itu terbuat dari plastik, sulit sekali plastik itu hancur terurai dengan tanah. Sehingga sampah itu akan tetap berada di sekitar lokasi apabila tidak dibersihkan.

Ada juga tangan-tangan jahil yang mencorat-coret dinding bangunan. Hal itu dibuktikan dengan adanya gambar-gambar maupun coretan-coretan tangan yang terdapat di sebagian tembok bangunan. Mata pengunjung bukan tidak mungkin akan sedikit terganggu oleh keberadaan coretan-coretan yang tidak berguna itu. Fotografer pun tidak akan memilih memotret di lokasi bangunan yang terdapat di benteng itu. Perbuatan itu sangat disayangkan sekali. Bisa-bisa merusak keindahan lingkungan itu sendiri.

Agar benteng pendem tetap asri terjaga. Agar benteng pendem tetap bersih. Agar benteng pendem tetap nyaman dipandang mata. Hal yang perlu dilakukan adalah menjaga kebersihan lingkungan. Sampah-sampah dibuang ke tempat sampah. Nah, yang bisa saja dikeluhkan oleh para pengunjung yang ingin membuang sampah adalah keberadaan tempat sampah itu sendiri. Bila tidak tersedianya tempat sampah, para pengunjung mau membuangnya kemana? Sehingga pengunjung terpaksa membuang sampah sembarangan.

Untuk menghadapi hal semacam itu, pihak-pihak yang terkait sebaiknya menyediakan tempat sampah. Di sana sebenarnya sudah tersedia tempat sampah, tetapi hanya sedikit dan letaknya agak jauh. Hal itulah yang mendorong pengunjung membuang sampah sembarangan. Tetapi apabila jumlah tempat sampah yang disediakan mencukupi artinya tempat sampah banyak tersedia, maka pengunjung tidak akan membuang sampah sembarangan. Penyediaan tempat sampah bisa dilakukan oleh pihak yang bersangkutan misalnya Pemda Ngawi.

Nah, agar keindahan benteng tetap terjaga, terutama tembok benteng, kita sebaiknya para pengunjung tidak mencorat-coret bangunan tembok. Memang hal itu diperlukan kesadaran dari kita untuk menjaga keeksotisan benteng. Apabila kita sadar, pasti kita tidak akan mencorat-coret tembok.

Semoga dengan kita tetap menjaga kelestarian benteng Van Den Bosch atau benteng pendem itu, maka bangunan itu akan tetap megah berdiri kokoh. Dan juga benteng pendem akan tetap menjadi tujuan wisata di kota Ngawi tercinta.

9 pemikiran pada “Benteng Pendem Ngawi, Kini dan Nanti

    1. Benteng Pendem itu letaknya di kelurahan Pelem Ngawi. Dekat pasar Ngawi.
      Kalau dari Gendingan, naik kendaraan (bus) turun di terminal Kertonegoro. Atau turun di plasa / perempatan Kartonyono. Setelah itu naik becak atau kendaraan yang bisa menuju jalan ke benteng Pendem.
      Selamat mengunjungi tempat bersejarah benteng Pendem.🙂

  1. Ping-balik: Benteng Pendem (Fort Van Den Bosch) – Ngawi, Jawa Timur | Tahukah Anda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s