Anak Kecil Peminta-minta

Kemarin ketika saya pulang dari kampus sekitar jam lima sore, di perempatan sebelah timur terminal lama Ngawi, saya menjumpai seorang anak kecil peminta-minta. Anak kecil itu seorang perempuan yang kira-kira seusia anak Sekolah Dasar (SD). Dengan pakaian yang lusuh anak kecil itu mengemis kepada para pengguna kendaraan bermotor. Pada saat lampu merah anak perempuan itu menyodorkan tangannya ke pengendara kendaraan bermotor. Memang di perempatan itu terdapat lampu lalu lintas. Jadi anak kecil itu “mencari penghasilan” di tempat itu.

Dengan memasang muka yang memelas, bermodalkan gelas  air mineral ditambah dengan pakaian lusuhnya, anak perempuan yang masih kecil itu mengharapkan belas kasihan dari para pengendara kendaraan bermotor. Ketika lampu lalu lintas menyala merah dengan sigapnya anak kecil itu menadahkan tangannya. Setiap pengendara kendaraan dihampirinya. Entah kepada pengendara mobil, truk, dan sepeda motor sendiri anak itu berharap akan mendapatkan uang. Jika menerima uang receh maka senanglah hati anak kecil itu. Apalagi jika mendapatkan uang kertas seribuan, dua ribuan, lima ribuan, atau sepuluh ribuan, maka akan lebih sumringahlah ia.

Dari pengendara kendaraan bermotor sendiri ketika menjumpai anak perempuan kecil itu mereka menanggapinya beragam. Ketika anak itu berkata, “Pak, tolong kasihani saya”.  Ada yang dengan ikhlas memberikan sepeser uang dari dompetnya. Ada yang menolak tidak memberi uang kepadanya. Dan ada yang tidak menanggapi anak itu. Menunggu si anak untuk pergi dari hadapannya.

Sungguh kasihan si anak kecil itu. Seorang anak perempuan yang masih kecil yang sejatinya harus sekolah tetapi mengemis di perempatan jalan. Anak itu kelihatannya usianya masih duduk di Sekolah Dasar (SD).

Atau mungkin anak itu masih tetap sekolah pada pagi harinya. Sore harinya anak itu mengemis di jalan. Mengingat saya pulang dari kampus pada sore hari dan ketika pada pagi hari saya jarang menjumpai pengemis-pengemis di jalan. Biasanya pada sore hari menjelang petang memang di perempatan itu banyak sekali pengamen jalanan yang beraksi. Namun kemarin itu saja saya menjumpai seorang anak perempuan kecil itu mengemis. Kasihan sekali. Seharusnya pada sore hari bisa dia gunakan untuk bermain. Tetapi dia kehilangan waktu bermainnya karena mengemis di jalan.

Dalam pikiran saya bertanya, apa yang melatarbelakangi anak itu untuk mengemis? Saya mencoba menjawab tetapi ini hanya perkiraan dari saya saja. Terlepas dari benar atau tidaknya saya juga tidak tahu karena saya tidak meneliti kehidupan dari seorang pengemis itu.

Mungkin terkait masalah ekonomi dari keluarganya yang mendorongnya untuk melakukan hal itu. Kebanyakan seseorang mengemis karena himpitan ekonomi. Orang-orang seperti itu termasuk dalam golongan orang-orang pinggiran. Mereka kadang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga mereka terpaksa untuk mengemis. Dalam pikiran mereka para pengemis yang penting mereka bisa makan.

Bisa jadi orang tua anak kecil itu tidak memberi uang untuk sekedar jajan. Anak itu ingin agar bisa jajan sehingga ia terdorong untuk mengemis. Tak banyak-banyak, sekedar jajanan ringan yang harganya murah saja. Setiap orang tua tidak ingin anaknya mengemis. Meminta-minta kepada orang lain. Mengharap belas kasihan seperti itu.

Melihat hal semacam itu, seharusnya pemerintah memperhatikan nasib rakyat kecil. Kadang nasib mereka terabaikan oleh pemerintah sehingga mereka hidupnya tidak sejahtera. Apalagi anak itu termasuk generasi anak Indonesia yang perlu akan dunia pendidikan. Kita tidak ingin pendidikan kita tertinggal, pendidikan kita terbelakang. Seharusnya di usia anak itu diisi dengan kegiatan positif yang bisa menambah ilmu pengetahuan tetapi malah diisi dengan kegiatan yang tidak positif.

Apabila orang tuanya tidak mampu untuk membiayai sekolah anak kecil itu, pemerintah bisa memberikan bantuannya. Misalnya dengan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah), bantuan khusus siswa miskin, dan sebagainya. Dan jangan sampai terjadi penyimpangan bantuan karena korupsi dan sebagainya oleh pemerintah. Pihak pemerintah berkata bahwa pihaknya sudah memberikan bantuan. Tetapi di pihak lain (rakyat tidak mampu) berkata bahwa pihaknya belum menerima bantuan dari pemerintah. Jangan sampai terjadi penyelewengan bantuan. Apakah pemerintah tidak ingat dalam Undang-undang berbunyi, “Rakyat miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”? Selayaknya Undang-undang itu dilaksanakan.

Terakhir, harapan saya semoga negara Indonesia menjadi semakin sejahtera. Terjaminnya kehidupan rakyat Indonesia. Tidak ada lagi anak kecil usia sekolah mengemis di jalan seperti yang saya lihat kemarin itu.

Udin Widarso

4 pemikiran pada “Anak Kecil Peminta-minta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s