Memaknai Kelulusan

Hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh adik kita para pelajar, khususnya pelajar yang telah melaksanakan Ujian Nasional (Unas). Pasalnya hari ini adalah hari diumumkannya hasil ujian nasional tersebut. Para siswa menanti dengan harap-harap cemas akan hasil ujiannya. Apakah lulus atau tidak lulus. Hasil ujian itu adalah hasil perjuangan dari masing-masing siswa. Wajar bila mereka sangat menanti-nanti pengumuman hasil ujian masing-masing.

Para pelajar khususnya pelajar SMA dan yang sederajat hari ini mendapatkan pengumuman hasil ujian. Ujian Nasional yang telah dilaksanakan beberapa waktu lalu merupakan salah satu penentu kelulusan para pelajar. Memang sekarang ini penentu kelulusan ujian tidak hanya dari hasil Ujian Nasional saja, tetapi ditambah dengan Ujian Akhir Sekolah (UAS). Komposisi kelulusan, 60% nilai Unas dan 40 % nilai Ujian Akhir Sekolah (UAS).

Dari hasil Unas didapatkan pelajar yang lulus maupun tidak lulus. Banyak pelajar yang lulus tetapi ada pula pelajar yang tidak lulus. Para pelajar yang lulus biasanya mereka merayakan kelulusan mereka. Banyak cara untuk memaknai kelulusan. Kelulusan dapat dirayakan dengan baik. Tetapi ada pula para pelajar yang merayakan kelulusan dengan cara yang kurang baik (setidaknya itu menurut saya).

Ilustrasi konvoi pelajar
Konvoi pelajar. Sumber gambar : http://www.antaranews.com

Merayakan kelulusan menurut saya sah-sah saja. Kerena itu sama pula dengan merayakan keberhasilan dari perjuangan yang telah kita tempuh. Para pelajar dalam memaknai kelulusan mereka, ada yang melakukannya dengan mencorak-coret baju atau seragam, melakukan konvoi di jalan-jalan, dan ada pula para pelajar yang merayakan kelulusan dengan sewajarnya saja.

Tetapi yang tidak diperhatikan oleh mereka adalah manfaat dan kerugian dari cara mereka dalam merayakan kelulusan. Jika merayakan kelulusan dengan cara mencorat-coret seragam, melakukan konvoi di jalanan jika dipikir secara logis pasti tidak bermanfaat. Dan sebaliknya jika merayakannya dengan cara seperti itu justru akan menimbulkan kerugian.

Kerugian yang bisa didapat dari mencorat-coret seragam adalah menjadikan seragam itu berkurang nilai gunanya. Yang sebelumnya seragam itu bersih menjadi berubah kotor karena cat yang disemprotkannya. Jika anak itu berpikir secara jernih, seragam itu pasti tidak akan dicorat-coret. Seragam itu kelak menjadi berguna jika masih bersih. Setidaknya setelah lulus masih bisa dipakai baju tersebut di rumah. Atau yang lebih baik seragam itu bisa disumbangkan kepada orang yang membutuhkan. Itu akan bisa meringankan beban orang lain.

Jika merayakan kelulusan dengan konvoi di jalanan, menurut saya kerugiannya lebih besar dibandingkan dengan manfaatnya. Konvoi yang biasanya dilakukan oleh banyak orang terkadang dapat mengganggu pengguna kendaraan yang lainnya. Mereka terkadang membunyikan kendaraan atau motor mereka dilakukan secara keras-keras. Mereka menge-gas motor dengan keras dan menderu-deru. Hal itu akan mengganggu pendengaran pengguna jalan yang lainnya. Yang lebih parahnya kalau mereka merusak sejumlah fasilitas negara. Itu akan lebih merugikan lagi.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan perlu dibutuhkan pengamanan dari pihak yang berwenang. Misalnya terganggunya lalu lintas di jalan oleh ulah para pelajar yang berkonvoi. Hal itu bisa dilakukan oleh polisi. Jika mereka melanggar, sah-sah saja bila polisi menilang mereka.

Kelulusan bisa dimaknai secara benar dengan cara merayakan kelulusan secara baik dan benar pula. Merayakan kelulusan tidak hanya dilakukan dengan mencorat-coret baju atau seragam. Tidak hanya dengan konvoi di jalanan. Merayakan kelulusan dengan mengadakan syukuran misalnya, itu akan lebih banyak memberikan manfaat. Jika dengan syukuran, itu bisa mendekatkan kita kepada Tuhan. Memang suatu kelulusan itu adalah anugerah dari Tuhan. Bukankah bila kita diberi nikmat oleh Tuhan, kita diperintahkan untuk bersyukur?

Kalau saya sendiri yang lulus SMA pada tahun 2010 lalu, saya merayakan kelulusan dengan sewajarnya saja dan tidak berlebihan. Saya tidak mencorat-coret seragam saya apalagi melakukan konvoi di jalan. Menurut saya, melakukan hal semacam itu akan sia-sia belaka. Tidak akan memberikan manfaat bahkan bisa merugikan.

Kembali pada diri masing-masing pelajar dalam memaknai kelulusan. Apakah mereka memaknai dengan cara yang benar. Ataukah memaknai dengan cara yang salah. Tentunya perlu pertimbangan dari masing-masing. Pertimbangan akal dan nurani masing-masing pribadi. Bila tidak bermanfaat, pasti hal itu akan kita hindari. Dan bila bermanfaat pasti akan kita laksanakan. Tergantung dengan akal dan hati nurani kita.

Terakhir, bagi adik-adik para pelajar kita yang tidak lulus janganlah berkecil hati. Kalian belum berhasil dan bukannya kalian tidak berhasil. Masih ada harapan untuk lulus. Itu merupakan keberhasilan yang tertunda. Dengan belajar lebih giat lagi, kelulusan akan dekat dengan kalian. Semoga saja. ***

Udin Widarso

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s