Laki-laki yang Merokok Sembarangan

Beberapa hari yang lalu ketika saya mengisi bensin di pom bensin dekat terminal lama Ngawi, saya melihat seorang laki-laki (bapak-bapak) yang juga mau mengisi bensin di situ. Melihat gayanya, dia seperti preman lagaknya. Badan lumayan kekar dengan dandanan rambut yang semrawut.

Bukannya kenapa-kenapa dengan gayanya. Tapi dia sempat membuat saya kesal dengan tingkahnya. Pun pelayan pom bensin di situ juga kesal dengannya. Kenapa? Dia menghisap rokok di saat memasuki area pengisian bensin di pom bensin itu.

Jelas bahwa di area pengisian bahan bakar minyak (BBM) setiap orang yang masuk ke sana dilarang untuk merokok. Karena hal itu dapat menyebabkan meledaknya atau terbakarnya SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum). Namanya bahan bakar maka barang seperti itu tentu mudah terbakar. Uap bensin kalau kena percikan api bisa saja terjadi kebakaran.

Okelah kalau laki-laki itu hobinya merokok. Tapi harus memperhatikan lingkungan sekitar. Apakah di lingkungan itu diperbolehkan untuk merokok atau dilarang untuk merokok. Karena kalau kita melanggar aturan bisa-bisa tak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga akan merugikan orang lain.

Melihat laki-laki seperti itu untungnya pelayan di pom bensin langsung tanggap untuk menyuruhnya mematikan dan membuang puntung rokoknya. Kemudian ia berjalan sambil lalu membuang puntung rokoknya. Dan syukurlah di pom bensin itu tidak terjadi apa-apa.

Nah, buat para perokok hendaknya berpikirlah sebelum merokok. Mana tempat yang diperbolehkan untuk merokok, mana tempat yang dilarang buat merokok. Jangan sampai buat para smoker sekalian meniru laki-laki itu. Kalau di SPBU jelas di sana dilarang merokok. Entah ada tulisan ‘No Smoking’ atau tidak, tetap dilarang buat merokok. Makanya jangan merokok sembarangan! Dan juga merokok itu mengganggu kesehatan lho… 🙂

Lingkungan yang Sejuk

Anda pilih yang mana, antara menghirup udara yang sejuk dan segar, atau menghirup udara yang kotor dan tercemar? Tentu yang anda pilih adalah menghirup udara yang sejuk dan segar. Sama seperti saya juga memilih menghirup udara yang sejuk dan segar. Kita semua pun sama memilih itu. Apalagi udara yang kita hirup itu bersih, pasti dapat menyehatkan badan. Sedangkan menghirup udara yang kotor dan tercemar itu dapat menimbulkan penyakit. Terutama penyakit pada pernafasan.

Pohon yang rindang
Pohon yang rindang di desaku, desa Kartoharjo, Ngawi

Udara yang sejuk dan segar kebanyakan berada di lingkungan yang tumbuh pohon-pohon yang hijau dan rindang. Memang seperti yang kita ketahui, pohon/tumbuhan dapat memproduksi zat Oksigen (O2). Oksigen adalah unsur yang dibutuhkan manusia untuk bernafas. Kalau kita kekurangan Oksigen, bisa-bisa kita jadi sesak nafas. Otak akan kesulitan untuk berpikir secara jernih. Memang otak kita sangat membutuhkan Oksigen untuk bisa bekerja.

Untuk menjaga suplai Oksigen agar tetap dapat kita gunakan untuk bernafas, maka kita harus merawat alam. Karena penghasil Oksigen adalah pohon/tumbuhan, kita sebaiknya merawat tumbuhan. Tumbuhan jangan sampai habis. Hutan jangan sampai gundul. Biasanya yang dapat menyebabkan hutan itu gundul adalah penebangan secara liar dan sembarangan. Maksudnya penebangan secara berlebihan tanpa memikirkan kelangsungan hidup hutan itu pada masa akan datang.

Boleh-boleh saja melakukan penebangan pohon. Tetapi tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Jangan sampai pohon habis. Alam bisa memberikan keuntungan kepada kita sebagai manusia, tetapi kita harus memberikan perhatian kepada alam. Ada hubungan timbal balik antara kita dengan alam. Alam merawat kita, kita juga merawat alam.

Kita sebagai manusia sama-sama merawat alam. Kita bekerja sama untuk melindungi alam. Bukan kerja sama untuk menghancurkan alam. Bila lingkungan senantiasa terjaga, tidak hanya kita atau generasi saat ini saja yang dapat mengambil manfaat dari alam. Tetapi juga generasi mendatang, anak-anak kita, cucu-cucu kita pun dapat menikmati alam dan dapat mengambil manfaat darinya.

Bila alam terjaga, tidak hanya menyejukkan udara, tetapi juga menyejukkan hati dan pikiran kita. ***

Udin Widarso

Panen Padi

Di desaku, desa Kartoharjo, Kec./Kab. Ngawi, banyak petani yang panen padi beberapa hari (beberapa minggu) ini. Mereka menuai padi hasil bertani selama kurang lebih empat bulan. Meskipun beberapa sawah ada yang ambruk tanaman padinya. Hal itu mungkin karena diterpa angin kencang (bisa juga karena penyakit). Sekarang ini kan sedang musim hujan. Jadi maklum kalau hujan deras terkadang disertai dengan angin kencang.

Nah, ini dia foto panen padi. Saya potret ketika saya lewat sawah di desa saya, desa Kartoharjo.

Panen Padi

Penduduk di desa saya mayoritas bermata pencaharian sebagai petani. Jadi, kalau sawah mereka sedang panen, dapat dipastikan mereka sibuk menuai padi hasil bercocok tanamnya. ***

Udin Widarso

Iklan Kadaluarsa

Sepulang dari kampus, saya melihat sebuah iklan yang berukuran besar yang terpampang di perempatan di pinggir jalan. Saya membaca iklan itu ketika saya berhenti pada saat lampu sedang merah. Menarik sekali iklan itu. Iklan itu adalah sebuah iklan rokok produk baru. Di situ tertulis ada acara besar yaitu konser musik dangdut di Ngawi, kota saya.

Perusahaan rokok itu untuk mempromosikan produknya (di kota saya) tak tanggung-tanggung dengan menghadirkan penyanyi ibukota yang sedang ngetop saat ini. Tapi apa yang saya lihat itu ternyata acaranya sudah berlalu beberapa bulan lalu.

Mungkin bagi orang yang belum tahu iklan itu, ketika lewat dan kemudian membacanya kemungkinan akan tertarik dengan acara konser dangdut itu. Tetapi apabila ia membacanya sampai tuntas iklan yang terpampang itu, mungkin ia tidak tertarik lagi. Yah, karena memang acara di iklan itu sudah kadaluarsa. Ibarat makanan rasanya sudah tidak enak dan tidak bisa dimakan lagi bila sudah kadaluarsa.

Boleh-boleh saja sebuah perusahaan mempromosikan produknya agar dikenal oleh masyarakat. Di manapun boleh. Bisa melalui media televisi, radio, koran, internet maupun dengan memasang iklan di pinggir jalan sama seperti perusahaan rokok itu. Tapi yang perlu diperhatikan adalah apakah iklan yang berisi acara itu masih berlaku atau malah sudah kadaluarsa. Nah, bila iklan sudah kadaluarsa acaranya, maka akan lebih baik bila pihak perusahaan (pembuat iklan) mengganti iklan lagi yang baru.

Pemerintah daerah bisa menertibkan iklan-iklan yang terpampang di pinggir-pinggir jalan. Kalau iklannya sudah tidak layak lagi, pemerintah daerah bisa menertibkan iklan-iklan seperti itu. Dilepas saja biar lingkungan menjadi bersih dari iklan-iklan yang usang.

Dengan adanya iklan yang tidak kadaluarsa, apabila dilihat dan dibaca oleh orang yang lewat, orang itu menjadi tertarik dengan isi acaranya. Karena memang acaranya masih up to date atau belum usang. Nah, dampaknya bagi perusahaan adalah produknya dapat dikenal oleh masyarakat (dengan baik).

Sah-sah saja bagi suatu perusahaan untuk mempromosikan produknya dengan memasang iklan di pinggir jalan. Itu memang merupakan suatu strategi pemasaran. Tetapi dengan catatan, iklannya itu adalah iklan masih berlaku. Kalau sudah tidak berlaku lagi akan membuat ‘sedikit kotor’ pemandangan di jalan dan di lingkungan. ***

Udin Widarso