Pejabat yang Suka Marah-marah

Kenapa saya mengambil judul seperti di atas? Karena saya pribadi tidak suka ya dengan pejabat yang suka marah-marah. Apalagi marah-marahnya itu sampai masuk tivi. Sampai dijadikan berita yang notabene berita itu ditayangkan secara nasional. Jadi semua orang bisa menontonnya.

Entah apa maksud si pejabat yang suka marah-marah itu. Apa biar orang tahu kalau si pejabat tersebut adalah orang yang tegas. Apa biar orang tahu kalau ia adalah penguasa atau bagaimana.

Teman-teman tahu pak Ahok sang Gubernur DKI Jakarta? Hmm, pasti tahu semuanya. Ya, dialah contoh pejabat itu. Memang akhir-akhir ini ia menjadi sorotan media. Namanya pun melambung seiring kebijakan atau sikap yang dikeluarkannya. Pernah ia marah-marah ketika berbicara di hadapan media.

Memang setiap orang pasti punya amarah. Orang yang sikapnya kalem juga bisa marah-marah. Iya, termasuk yang nulis tulisan ini. Tapi bagi seorang pejabat, tidak etis bila sukanya marah-marah. Apalagi hingga ditayangkan ke media/berita.

Pejabat tak hanya menjabat suatu jabatan. Ia adalah pemimpin. Ia memimpin bawahan. Ia juga memimpin rakyat. Tak hanya satu atau dua rakyat, tapi ribuan bahkan jutaan rakyat.

Pemimpin harusnya bisa menjadi contoh. Bisa memberikan teladan yang baik. Entah itu cara bersikap dan bertutur kata. Bila bicara atau ditanya jangan suka menjawab dengan marah-marah.

Dari tulisan saya yang sederhana ini semoga bisa menjadikan pelajaran bagi kita semua, khususnya bagi seorang pemimpin untuk menjaga sikap dan tutur katanya. Semoga segala urusan kita dimudahkan oleh Allah SWT. Aamiin. ūüôā

Iklan

Pemimpin dan Teladannya

Pemimpin, adalah kata yang sama sekali tidak asing di telinga. Pemimpin menjadi bagian utama dari perubahan terhadap sesuatu atau orang-orang yang dipimpinnya. Bila pemimpinnya baik, maka perubahan yang baik pun akan didapatkan terhadap apa-apa yang dipimpinnya. Baik dalam segala hal. Tetapi yang dibahas di sini adalah baik dari segi teladannya.

Dari Wikipedia Ensiklopedia Bebas, yang dimaksud dengan kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Dari situ diartikan bahwa pemimpin adalah seseorang yang berpengaruh atau memmberi contoh kepada pengikutnya/rakyatnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi.

Setiap negara mempunyai pemimpin. Setiap provinsi ada pemimpinnya. Kalau di Indonesia disebut dengan gubernur sebagai pemimpin di setiap provinsi. Di tingkat kabupaten juga ada pemimpinnya, yaitu bupati. Sampai pada tingkat desa/kelurahan juga ada pemimpinnya, yaitu kepala desa/lurah. Sebenarnya tidak hanya sampai tingkat itu saja dibutuhkan pemimpin. Sampai di keluarga pun juga ada pemimpin, yaitu kepala keluarga. Diri kita pribadi pun adalah pemimpin, setidaknya menjadi pemimpin bagi diri sendiri.

Pemimpin biasanya memberikan teladan kepada rakyat yang dipimpinnya. Kenapa seorang pemimpin menjadi teladan bagi rakyatnya? Kita tahu kalau seorang pemimpin itu biasanya sering diperhatikan oleh rakyatnya. Perhatian utama rakyat adalah di pemimpinnya. Diperhatikan tingkah lakunya. Apakah memberikan teladan yang baik atau justru memberikan teladan yang buruk?

Seorang pemimpin yang memberikan teladan baik kepada rakyatnya, maka rakyatnya akan ikut baik perilakunya. Sebaliknya, seorang pemimpin yang memberikan teladan buruk kepada rakyatnya, maka rakyatnya kemungkinan juga ikut buruk perilakunya.

Sebagai contoh, seorang pemimpin yang memberi contoh minum minuman keras. Apalagi ia (pemimpin) mengajak rakyatnya ikut dengannya (minum minuman keras). Wah, bakalan teler mereka. Itulah teladan yang buruk dari seorang pemimpin. Apakah pejabat seperti itu bermotifkan politik? Apakah pejabat itu agar memperoleh suara yang banyak, sehingga ia terpilih menjadi pejabat (lagi)? Mungkin ada motif politik dibalik itu. Tetapi entahlah, hanya orang yang seperti mereka itu sendiri yang tahu. Teman-teman mungkin bertanya, apakah ada pemimpin seperti contoh di atas? Ada.

Kita sebagai seorang rakyat sebaiknya mengikuti teladan yang baik dari pemimpinnya. Ambil yang baik, buang yang buruk. Bukan mengambil sandal di masjid lho! Hehehe… Maksudnya kita memfilter teladan dari seorang pemimpin yang memberikan contoh perilakunya kepada kita.

Memang pemimpin/pejabat itu juga manusia. Mereka juga punya salah, sama seperti kita. Mereka memang tak luput dari dosa. Tapi, kita sebagai rakyat harus pandai-pandai mencontoh perilaku pemimpin. Kita contoh perilaku pemimpin yang berperilaku baik. Sebaliknya kita jangan mencontoh pemimpin yang buruk perilakunya. Dengan demikian, negara kita, desa kita bisa menjadi desa yang makmur, aman, dan tenteram. ***

Udin Widarso

Pada Suatu Iklan TV : Menyindir Korupsi

Tindak korupsi di Indonesia saat ini sedang bergejolak. Banyak kasus korupsi yang hangat diberitakan di televisi. Mulai dari kasus Wisma  Atlet hingga kasus penggelapan pajak. Dan sebenarnya masih ada lagi kasus korupsi di Indonesia, selain dari yang saya sebutkan tersebut.  Karena banyaknya kasus korupsi yang menghiasi layar televisi kita, hal itu kemudian dimanfaatkan oleh salah satu produk rokok di Indonesia untuk dijadikan iklan.

sumber gambar : jadiberita.com

Ketika saya menonton televisi pada waktu malam hari, saya melihat¬† salah satu iklan. Iklan itu sempat menarik perhatian saya.¬† Membuat saya tertawa karena saking lucunya. Iklan itu dibuat untuk mempromosikan salah satu produk rokok di Indonesia. Bolehlah saya menyebutkan merknya yaitu rokok ‘Djarum 76’ .

Iklan itu seolah-olah menyindir korupsi di Indonesia. Cukup kreatif sekali sang pembuat iklan tersebut. Iklan itu menceritakan ada suatu audisi untuk mencari Jin yang hebat. Yang menjadi kontestan tentunya adalah Jin. Tetapi jangan terlalu dianggap serius ya, karena ini adalah hasil imajinasi dari si pembuat iklan! Itu hanya untuk keperluan iklan saja. Tentunya tidak ada dalam kehidupan nyata.

Jumlah kontestannya ada tiga Jin. Masing-masing Jin berasal dari Mesir, Jepang, dan Indonesia tentunya. Yang menunjukkan kebolehannya pertama kali yaitu Jin dari Mesir. Jin itu memakai pakaian khas dari Timur Tengah. Jin itu menunjukkan kehebatannya dengan cara menghilangkan Piramid di Mesir. Ternyata dia berhasil menghilangkan Piramid tersebut.

Kontestan Jin yang kedua yaitu berasal dari Jepang. Jin itu memakai pakaian khas dari negara Jepang seperti pakaian Samurai. Setelah melihat dari apa yang ditunjukkan oleh Jin dari Mesir, Jin dari Jepang langsung meremehkannya. Itu belum seberapa dibandingkan aksi Jin dari Jepang. Kemudian Jin dari Jepang menunjukkan aksi kebolehannya. Dia akan menghilangkan gunung Fuji di Jepang. Setelah disulapnya, gunung Fuji itu kemudian berhasil menghilang.

Yang terakhir tibalah saatnya Jin dari Indonesia untuk menunjukkan aksi kebolehannya. Jin itu memakai pakaian khas Jawa. Dia mengenakan baju Jawa, jarit, serta blangkon. Jin Jawa memasuki panggung dengan membawa kardus yang berisi setumpuk buku yang sampai ke atas. Kemudian Jin itu menghilangkan buku-bukunya. Jin yang lainnya menertawakan aksi Jin dari Jawa karena terlalu mudah. Tetapi maksud dari Jin Jawa yaitu menghilangkan kasus korupsi di Indonesia. Dapat dilihat dari tulisan yang terdapat di kardus tersebut yang bertuliskan “KASUS KORUPSI”. Sontak Jin yang lain menyerah dan mengakui kehebatan Jin dari Indonesia yang bisa menghilangkan kasus korupsi. Mengingat kasus korupsi di Indonesia memang sulit dihilangkan. Ending ceritanya para penonton bertepuk tangan riuh menyoraki Jin dari Indonesia yang berhasil memenangkan audisi.

Kurang lebihnya seperti itulah cerita dari iklan rokok ‘Djarum 76’ yang menyindir kasus korupsi di Indonesia. Betapa tidak, kasus korupsi di Indonesia sedang marak terjadi. Tak hanya di ibu kota, mungkin juga kasus korupsi juga terjadi di daerah-daerah di Indonesia. Dan untuk menghilangkannya sangat sulit. Korupsi yang hangat terjadi di Indonesia saat ini adalah kasus Wisma Atlet, penggelapan dana pajak. Mungkin masih ada lagi kasus-kasus korupsi di Indonesia yang belum saya ketahui.

Kasus korupsi tentunya sangat merugikan bagi negara kita. Tentunya uang yang dikorupsi itu adalah uang rakyat. Uang yang seharusnya digunakan untuk kepentingan rakyat, untuk kesejahteraan rakyat, dan untuk pembangunan negara malah disalahgunakan penggunaannya. Malah uang itu hanya dinikmati untuk segelintir orang yang sama sekali tidak berhak yaitu para manusia yang bermental korup. Siapa lagi kalau bukan koruptor.

Para pejabat elit yang haus akan harta sepertinya belum menyadari bahwa perbuatan mereka itu merugikan negara. Tak jarang membuat rakyat sakit hati karena melihat ulah tingkah koruptor yang dilihatnya dari berita di layar televisi. Terutama rakyat kecil yang merasakan rasa sakit hati itu. Mungkin dalam hatinya berkata, “Kok, uang rakyat diselewengkan. Kan masih banyak rakyat kecil yang perlu bantuan”.

Sudah seharusnya para koruptor sadar akan perbuatannya. Sudah banyak kasus korupsi yang terjadi di Indonesia. Dan pelakunya pun juga sudah banyak yang dihukum. Seharusnya itu membuat para pelaku korupsi insaf akan perbuatannya. Perbuatannya itu merugikan negara. Tak hanya sejuta dua juta, tetapi bermilyar-milyaran rupiah kerugian uang negara. Uang itu selayaknya digunakan untuk kepentingan rakyat, kepentingan negara bukan untuk dikorupsi.

Seperti pada iklan rokok tersebut kasus korupsi bisa dihilangkan. Memang tidak mudah untuk menghilangkan. Tetapi selama kita bisa berusaha, maka hal itu pun bisa terjadi. Saya berharap seperti itu, sama seperti harapan rakyat Indonesia terutama rakyat kecil. Sama seperti penutup iklan rokok itu yaitu “yang penting heppiii…”. ***

Udin Widarso

Alangkah Indahnya Indonesia Tanpa Korupsi

Kasus korupsi di Indonesia kini mencuat kembali setelah KPK menetapkan Angelina Sondakh sebagai tersangka kasus korupsi Wisma Atlet beberapa hari yang lalu. Setelah tertangkapnya M. Nazaruddin beberapa waktu lalu, kini menambah panjang deretan kasus korupsi di negeri ini. Seakan-akan kasus korupsi tidak henti-hentinya melanda negara Indonesia ditengah kemiskinan yang menerpa rakyat Indonesia.

Para pelaku korupsi seakan-akan tidak kapok dengan perbuatannya. Berita kasus korupsi pun marak dalam pemberitaan di media saat ini. Dulu sebelum ada kasus Wisma Atlet, seorang Gayus Tambunan terjerat kasus suap pajak. Hingga dimasukkan ke dalam sel tahanan. Tetapi ternyata pelaku korupsi tersebut dapat melenggang pergi ke Bali hingga ke luar negeri.

Setelah kasus Gayus, bertambah lagi kasus M. Nazaruddin yang menjadi tersangka kasus korupsi Wisma Atlet. Dan dia pun sempat juga melenggang pergi keluar negeri. Hal itu membuat kami, rakyat Indonesia semakin geram terhadap para pelaku korupsi. Enak-enaknya saja membawa kabur uang rakyat untuk kepentingan pribadi.

Untungnya saja M. Nazaruddin berhasil ditangkap dan dibawa pulang kembali ke Indonesia. Dan M. Nazaruddin pun menyeret para pelaku korupsi berikutnya. Hal itu menunjukkan dia dalam menjalankan praktek korupsi tidak sendirian. Akhirnya M. Nazaruddin menyeret Angelina Sondakh menjadi tersangka kasus korupsi Wisma Atlet yang baru.

Belum selesai satu kasus korupsi, malah bertambah lagi kasus korupsi yang lain. Hal itu membuat kami, rakyat Indonesia kecewa dan geram terhadap para pelaku korupsi. Uang yang berasal dari rakyat, eh, dipakai sendiri untuk berfoya-foya demi memuaskan hasrat untuk kepentingan diri pribadinya sendiri.

Dibalik beberapa kasus korupsi tersebut, bisa kita lihat kondisi masyarakat Indonesia yang masih dalam keadaan miskin. Masih banyak masyarakat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan. Mereka yang bekerja siang malam, belum tentu mendapatkan banyak penghasilan. Apalagi ditambah dengan kebutuhan hidup yang semakin banyak.

Bisa kita lihat acara-acara di televisi yang menayangkan berita tentang kehidupan rakyat kecil. Mereka tinggal di rumah yang terbuat dari bambu yang sudah retak dimana-mana. Meskipun begitu mereka tetap mensyukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Mereka kadang-kadang tidak mengetahui jika uang mereka (uang rakyat) di korupsi oleh pejabat elit yang duduk di kursi empuk.

Dan juga masih banyak sekolah-sekolah di Indonesia yang mengalami kerusakan. Dari yang atapnya retak, temboknya retak, hingga yang lebih parah sekolahannya ambruk. Hingga mereka para siswa harus belajar di rumah penduduk sekitar hingga harus belajar di bawah panasnya terik matahari. Sungguh miris memang jika uang untuk kepentingan umum dikorupsi untuk kepentingan pribadi. Hingga rakyat kecil kurang diperhatikan.

Sudah selayaknya, uang negara digunakan untuk kepentingan negara. Uang rakyat digunakan untuk kepentingan rakyat. Jangan sampai uang rakyat digunakan untuk kepentingan diri pribadi, untuk kepentingan golongan tertentu. Dengan uang yang jumlahnya milyaran rupiah, bisa digunakan untuk membantu rakyat miskin, membangun jembatan yang rubuh, membangun atau mendirikan sekolah-sekolah, dan masih banyak lagi. Tentunya itu akan lebih berguna daripada menghambur-hamburkan uang rakyat.

Semoga kasus-kasus korupsi di Indonesia segera tuntas dan terpecahkan. Dan semoga tidak ada lagi kasus korupsi di Indonesia. Kita rakyat Indonesia menginginkan negara Indonesia yang maju dan sejahtera tanpa ada kasus korupsi.